Text
Sekarang Saya Memahami Kitab Suci
PendahuluanrnSeorang anak berkata kepada ibunya: «Bu, surga itu kan ada di atas sana!» seraya menunjuk ke arah langit. Lalu ibu berkata: «Surga tempat Allah berada tidak dapat kita katakan ada di atas, karena Al lah berada di mana-mana. Jadi, surga bukan suatu tempat di atas kita, melainkan di mana-mana, di dalam kita dan di sekitar kita. Kita baru dapat melihatnya, bila Allah memberikan kita mata dan hati yang lain dari mata dan hati yang kita miliki sekarang».rnDemikian atau kurang lebih demikianlah berlangsungnya percakap an seorang anak dengan ibunya mengenai surga. Para orang tua beriman dewasa ini pada umumnya mampu menyadarkan atau menginsafkan anak-anak, bahwa surga tidak kelihatan dan tidak boleh dicari di atas, tempat pesawat terbang dan astronaut-astronaut beroperasi. Akan tetapi kita jangan menganggap pengertian itu sebagai hal yang biasa. Beberapa puluh tahun yang lalu pengertian ini belum dapat ki ta harapkan dari setiap orang, termasuk ibu dan anak tadi. Proses melepaskan bayangan-bayangan mengenai dunia di seberang sana dari gambaran dunia jaman dahulu, yang juga merupakan gambaran dunia yang dianut Alkitab, terjadi dengan kesulitan-kesulitan yang luar biasa. Dalam beberapa hal proses pemisahan ini belum berakhir, tetapi senan tiasa bergolak. Bagaimanapun juga satu hal sudah tercapai: Seorang Kristen yang normal kini tidak lagi membayangkan surga itu berada di atas awan-awan atau di suatu tempat di balik bintang-bintang. Apa kah dengan begitu pengertian «surga» bagi orang-orang Kristen dewasa ini sudah beres? Sama sekali tidak! Hanya pengertian yang sudah usang tentang surga itu tidaklah lagi begitu konkrit seperti di waktu silam. Perkataan «surga» itu makin jarang dan segan kita menyebutnya. Te tapi kita tetap percaya akan apa yang dimaksudkan dengan kata «surga», terlepas dari bayangan-bayangan surga dari jaman dahulu. Buktinya ki ta masih berdoa tentang: «Kemuliaan bagi Allah di tempat yang tinggi», meskipun kita tahu dan sadar, bahwa pengertian tinggi» tidak boleh diartikan sebagai tempat. Tetapi kita insaf, bahwa «tinggi» itu me ngandung makna juga. Jadi, kita tetap berpegang pada gambaran ini, meskipun kita sudah mampu menanyakan apa yang menjadi latar bela kang gambaran itu dengan lebih tegas dan tepat dari orang Kristen pada abad-abad yang silam.rn
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain